Sayang tak berujung

Saya Hamil, Suami Berobat, Ibu Mertua Mencari Uang! Ternyata Pekerjaannya Adalah… Saya Pun Menangis!

Dikarenakan pendidikan rendah, setelah hamil saya sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Akhirnya saya tinggal di rumah, menunggu sampai melahirkan. Suami saya adalah seorang juru masak (koki), namun sungguh naas, suami saya mengalami kecelakaan motor ketika berangkat kerja sehingga saat ini dia harus beristirahat di rumah untuk berobat.

Tahun ini ibu mertua saya berumur 64 tahun. Setiap hari ia melihat kami makan, minum, nonton TV, main game. Ia pun mulai gelisah serta khawatir: "Harga susu sangat mahal, penghasilan kita hanya segini…"

Saya tahu dia mulai gelisah, tetapi apa boleh buat, kalau suami saya sudah membaik, saya akan menyuruhnya untuk segera bekerja.

Tetapi setengah tahun yang lalu, selain mengurus kebutuhan sandang pangan saya, setiap jam 8 pagi ibu mertua sudah keluar rumah. Siang jam 11:30 ketika pulang, saya bertanya ia pergi kemana.

Dia berkata ia pergi membagi brosur bersama dengan ibu-ibu sebaya lainnya.

Saya dan suami saya lega, karena pekerjaan membagi brosur adalah pekerjaan yang cukup ringan, tidak terlalu meletihkan. Kemudian kami bertanya, berapa penghasilannya?

Ibu mertua saya berkata, karena dia bekerja dengan cepat, maka bosnya memberikan kepercayaan sebagai penanggung jawab, sehari dia memperoleh 2000 yuan.
Setelah lewat 3 bulan, ibu mertua saya setiap hari terlihat selalu senang. Bahkan terkadang berbelanja sayuran baru ketika pulang ke rumah.
Saat itu suami saya berkata: "Saya merasa ada yang aneh, ibu teman saya juga bekerja membagi brosur, tetapi penghasilannya sehari hanya 50 yuan saja." Saya berkata: "Tidak mungkin, masa ibumu berbohong?"
Hari kedua, ibu mertua saya seperti biasanya keluar jam 8 pagi. Saya dan suami mengikutinya dari belakang, kami ingin melihat apa yang sebenarnya dia lakukan.
Dia pertama-tama singgah di sebuah tempat parkiran. Ia mengeluarkan sebuah sepeda, didepannya tergantung sebuah tas berwarna hitam, dibelakangnya ada sebuah bangku kecil.
Jam 8:30 pagi itu, ibu mertua saya kemudian pergi ke pusat kota. Dia membuka resleting tas hitam tersebut, isinya sebuah kain, sikat, semir sepatu, dan kain lap yang sudah kusam... Pada saat itu seorang pelanggan sudah menyodorkan kakinya ke hadapan wajah ibu mertua saya. Ibu mertua saya menyelipkan rambutnya yang telah memutih ke belakang telinga, ia mulai bekerja.
Saya dan suami saya tidak ingin ibu mertua melihat kami, maka kami pun membelakangi dia. Entah sejak kapan kami berdua mulai meneteskan air mata.
Malam itu ibu mertua berkata: "Saya hari ini membeli seekor ikan, biar saya masakkan untukmu. Kamu sedang hamil, perlu banyak makan makanan bergizi ".
Suami saya merebut ikan tersebut, berkata "Ibu, kamu duduk saja, biarkan saya yang memasak."

Ibu mertua berkata: "Saya takut kamu tidak tahu bagaimana cara memasak ikan ini."

Saya berkata: "Ibu, tidak enak pun saya akan tetap makan. Akhir-akhir ini, sungguh kami telah merepotkanmu……" sambil berkata-kata, saya mulai menangis…

Ibu mertua saya menghapus air mata saya berkata: "Kamu sudah tau semuanya yah?" Saya menganggukkan kepala.

Ibu mertua berkata: "Saya sudah tua, hendak bagi brosur pun sudah tidak ada yang mau terima. Tidak ada cara lain, saya akhirnya jadi tukang semir sepatu. Sangat menguntungkan, loh! Setiap kali menyemir saya diberi upah 100 yuan, bahkan terkadang ada orang yang memberi lebih. Kalian dua-duanya tidak bekerja, nanti ketika cucu saya lahir, biaya yang dibutuhkan pasti banyak. Saya hanya ingin meringankan beban kalian."

Saya dan suami segera memeluknya erat-erat serta berkata: "Ibu, maafkan kami…"

Bersyukurlah masih ada ibu yang wujudnya bisa kalian peluk & Doa nya masih bisa kalian dengar meski tanpa diminta 😢😢