Tiada yang menengok selama di bui

Ia dibui saat berumur 18 tahun dikarenakan melukai orang. Hal ini membuat hati ibunya yang membesarkan dia terluka. Sejak saat itu sang ibu tidak pernah datang menengoknya. Pada musim dingin tahun itu, dia menerima sebuah baju rajutan musim dingin, di pinggir baju ada rajutan bunga merah, dan sepucuk surat: "Jadi orang baik, Mama tunggu kamu". Hal ini membuat dia yang begitu tegar meneteskan air mata. Dikarenakan sikapnya selama di penjara sangat baik, dia mendapatkan keringanan masa hukuman sehingga keluar lebih awal dari penjara. Pada saat sampai di rumah dia menemukan pintu rumahnya tertutup rapat. Dia bertanya kepada tetangganya: "Kemana ibu saya?" Tetangganya berkata ibunya sudah meninggal! Demi membantu untuk membayar hutang ibunya bekerja disebuah pabrik, baju rajutan itu dikirimkan melalui tetangganya. Tahun lalu pabrik itu meledak, semua karyawan meninggal dunia, salah satunya adalah ibunya. Didepan makam sang ibu, dia menangis sejadi-jadinya. Di hari kedua dia pergi menjual rumah tuanya, pergi membawa 6 potong baju hasil rajutan ke kota untuk memulai hidup yang baru.
4 tahun berlalu, dia membuka sebuah penginapan di kota, dia mempersunting seorang gadis menjadi istrinya. Setiap hari pagi-pagi buta dia keluar untuk membeli sayur-sayuran. Pasangan suami istri ini sering kali harus bekerja sampai subuh. Suatu hari, seorang nenek bungkuk dengan jalan yang sudah agak susah mendorong kereta ingin menjual kepadanya sayur mayur dan daging dengan harga yang murah.